Senin, 17 September 2012
Minggu, 16 September 2012
Rincian Penghasilan Obama
Oleh Walter Hickey | Business Insider
Bagaimana cara Presiden Amerika Serikat mengumpulkan kekayaannya? Berikut ini hasil penelusuran kami berdasarkan salinan surat pemberitahuan tahunan yang dirilis Obama dan beberapa sumber lain.
Inilah perjalanan Barack Obama yang berasal dari kelas menengah berubah menjadi miliarder.

Ketika dia menjabat sebagai senator negara bagian Illinois, dalam pernyataan finansialnya pada 2004, Barack Obama mengindikasikan bahwa dia memiliki tiga sumber penghasilan. Pertama adalah gaji sebesar $ 80.287 (Rp 770 juta) dari Senat Illinois.
Sumber yang lainnya adalah gaji sebesar $32.144 (sekitar Rp 300 juta) dari University of Chicago Law School, tempat ia bekerja sebagai dosen.
Ketiga adalah gaji Michelle, yang bekerja sebagai administrator di University of Chicago Hospital.
Namun gambaran keuangan tidak jelas sebelum 2001, tahun ketika Obama mendapatkan penghasilan dari buku “Dreams From My Father” pada 1995 dan karier hukumnya.
Obama berinvestasi pada tiga aset berbeda pada 2004. Pertama adalah Illinois State Senate Pension Fund, yang Obama investasikan antara $ 50-100 ribu (sekitar Rp 480-960 juta). Dua lainnya adalah investasi dana di Vanguard, perusahaan manajemen investasi.
Obama menginvestasikan dana di Vanguard Wellington Fund, yang bernilai antara $ 100-200 ribu (sekitar Rp 960 juta hingga Rp 2 miliar). Wellington Fund terdiri dari sekitar 60-70 persen saham dan 30-40 persen surat obligasi dan dana mutual fundamental. Obama juga menginvestasikan $ 50-100 ribu (sekitar Rp 480-960 juta) di Vanguard Wellesley Fund.
Dia kemudian mendapatkan kontrak buku bernilai besar setelah Konvensi Nasional Demokrat pada 2004.
Setelah memberi pidato penting pada konvensi 2004 itu sebagai seorang kandidat dari Senat — pidatonya, “The Audacity of Hope”, langsung melejitkan nama Barack Obama beberapa tahun sebelum pencalonan presidennya — Obama menandatangani beberapa kontrak buku dengan Random House.
Itu merupakan jumlah uang yang besar.
Dia menandatangani kontrak untuk dua buku nonfiksi dan satu buku anak-anak. Buku nonfiksi pertama adalah “The Audacity of Hope” versi panjang pidatonya pada 2004. Sementara buku anak-anak berjudul “Of Thee I Sing”, hasil penjualannya disumbangkan.
Berikut adalah syarat dari kontrak buku tersebut yang membuat Obama sangat kaya.
Setelah Januari 2005, Obama akan menerima uang muka sebesar $ 1,9 juta (sekitar Rp 18,2 miliar) untuk “The Audacity of Hope”. Ia juga mendapatkan royalti dari penjualan buku itu. Dari buku audio, Obama mendapatkan 10 persen. Random House juga mencetak ulang bukunya pada 1995, “Dreams From My Father” yang terjual lebih banyak.
Pada 2005, dia juga mengalokasikan dana untuk beberapa aset — termasuk dengan musuh sekaligus teman politiknya, JP Morgan.

Begitu dia mendapatkan uang, dia tidak hanya menabungnya di bank. Dia berinvestasi.
Dia memiliki akun JP Morgan Chase Private Client Asset Management, yang bernilai setidaknya $ 100 ribu. Akunnya di Northern Trust bernilai antara $ 250-500 ribu (sekitar Rp 2,4-4,8 miliar), dan dia juga menabung di UBS.
Dia juga mendapatkan royalti $ 378.237 (Rp 3,6 miliar) dari Dystel & Goderich, agen bukunya untuk “Dreams From My Father” dan dari Random House sebesar $ 847.167.
Sampai rincian ini, dia memiliki sekitar $ 1,1-2,5 juta. Dia menggunakan royalti dari buku-bukunya untuk membeli banyak obligasi jangka pendek (Treasury Notes).
Pada 2006, dia mendapatkan $ 147.490 untuk “Dreams From My Father” dan $ 425 ribu dari Random House untuk “The Audacity of Hope”. Pada 2007, saat pencalonan dirinya menjadi presiden, penjualan buku meningkat tajam. Dia mendapatkan $ 815.971 untuk “Dreams” dan $ 3,28 juta untuk “Audacity”.
Dengan uang itu, dia membuat beberapa pilihan finansial penting. Dia membeli Treasury Notes AS senilai antara $ 500 ribu hingga $ 1 juta. Dia memindahkan uang dari Vanguard Wellington Mutual Funds ke Vanguard FTSE Social Index Fund, yang berinvestasi berdasarkan “kriteria sosial, hak asasi manusia, dan lingkungan.”
Pada 2007, dia juga melakukan salah satu investasi terbesarnya untuk masa depan Sasha dan Malia. Obama pada 2007 membeli dua Bright Directions Age-Based Growth Plans, satu untuk Sasha dan satunya untuk Malia.
Perencanaan dana tersebut akan membiayai pendidikan kuliah mereka. Masing-masing portofolio tersebut bernilai sekitar $ 50 ribu hingga $ 100 ribu. Pada 2010, portofolio tersebut masing-masing bernilai $ 100 ribu hingga $ 200 ribu.

Tahun ketika dia mencalonkan diri menjadi presiden, dia membeli Treasury Bills AS senilai jutaan dolar. Sedikit sibuk dengan pencalonannya, Obama tidak membuat perubahan besar apa pun kecuali lebih banyak berinvestasi dalam Treasury Bills AS.
Saat melakukan sumpah jabatan, Obama memiliki Treasury Bills AS bernilai sekitar $ 1,1 juta hingga $ 5,1 juta yang menyumbang sebagian besar kekayaan bersihnya. Aset lainnya bernilai sekitar $ 411 ribu hingga $ 915 ribu. Dia tidak mengumpulkan pemasukan dari buku-bukunya.
Ketika Obama menerima Hadiah Nobel Perdamaian sebesar $ 1,4 juta (Rp 13,41 miliar) pada 2009, dia menyuruh komisi penghargaan tersebut untuk mengirim langsung uang tersebut ke badan amal berikut:
• $ 250 ribu untuk Fisher House, yang memberi pemukiman gratis untuk keluarga veteran dan militer mendapatkan perawatan medis.
• $ 200 ribu ditambah sisa yang yang belum dialokasikan, untuk Clinton-Bush Haiti Fund dari Clinton Foundation, badan amal yang membantu pembangunan kembali Haiti setelah gempa mematikan.
• $ 125 ribu untuk American Indian College Fund, yang memberikan beasiswa untuk penduduk asli Amerika.
• $ 125 ribu untuk Appalachian Leadership and Education Foundation, yang memberi beasiswa untuk masyarakat berpendapatan rendah di wilayah Appalachia.
• $ 125 ribu untuk College Summit, sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah pendaftar universitas.
• $ 125 ribu untuk Posse Foundation, yang memberikan beasiswa penuh untuk pelajar sekolah luar biasa.
• $ 125 ribu untuk Hispanic Scholarship Fund, yang memberi beasiswa untuk pelajar Latin.
• $ 125 ribu untuk United Negro College Fund, yang memberi beasiswa untuk pelajar kulit hitam.
• $ 100 ribu untuk Africare, sebuah organisasi yang membangun sumber air dan menangani penyakit di Afrika.
• $ 100 ribu Central Asia Institute, yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan masyarakat, terutama untuk wanita di Asia Tengah.
Selain itu semua, Obama juga menerima gaji untuk pekerjaannya sehari-hari. Gaji presiden adalah $ 400 ribu (sekitar Rp 3,83 miliar) per tahun. Hingga saat ini, dia sudah menerima $ 1,6 juta untuk masa jabatan pertamanya.
Sebagai seorang Senator AS, Obama digaji $ 174 ribu (Rp 1,66 miliar) per tahun. Dan karena dia sudah empat tahun menjabat, dia mendapatkan $ 696 ribu (Rp 6,66 miliar) selama masa jabatannya tersebut.
Jika digabungkan, selama menjabat di pemerintahan federal, Obama memperoleh $ 1,1 juta (sekitar Rp 10,54 miliar) sebelum dipotong pajak.
Kekayaan bersihnya diperkirakan bernilai $ 2,8 juta dan $ 11,8 juta (Rp 26,83 miliar-Rp 113,07 miliar) pada 2010.
Bagaimana cara Presiden Amerika Serikat mengumpulkan kekayaannya? Berikut ini hasil penelusuran kami berdasarkan salinan surat pemberitahuan tahunan yang dirilis Obama dan beberapa sumber lain.
Inilah perjalanan Barack Obama yang berasal dari kelas menengah berubah menjadi miliarder.
Ketika dia menjabat sebagai senator negara bagian Illinois, dalam pernyataan finansialnya pada 2004, Barack Obama mengindikasikan bahwa dia memiliki tiga sumber penghasilan. Pertama adalah gaji sebesar $ 80.287 (Rp 770 juta) dari Senat Illinois.
Sumber yang lainnya adalah gaji sebesar $32.144 (sekitar Rp 300 juta) dari University of Chicago Law School, tempat ia bekerja sebagai dosen.
Ketiga adalah gaji Michelle, yang bekerja sebagai administrator di University of Chicago Hospital.
Namun gambaran keuangan tidak jelas sebelum 2001, tahun ketika Obama mendapatkan penghasilan dari buku “Dreams From My Father” pada 1995 dan karier hukumnya.
Obama berinvestasi pada tiga aset berbeda pada 2004. Pertama adalah Illinois State Senate Pension Fund, yang Obama investasikan antara $ 50-100 ribu (sekitar Rp 480-960 juta). Dua lainnya adalah investasi dana di Vanguard, perusahaan manajemen investasi.
Obama menginvestasikan dana di Vanguard Wellington Fund, yang bernilai antara $ 100-200 ribu (sekitar Rp 960 juta hingga Rp 2 miliar). Wellington Fund terdiri dari sekitar 60-70 persen saham dan 30-40 persen surat obligasi dan dana mutual fundamental. Obama juga menginvestasikan $ 50-100 ribu (sekitar Rp 480-960 juta) di Vanguard Wellesley Fund.
Dia kemudian mendapatkan kontrak buku bernilai besar setelah Konvensi Nasional Demokrat pada 2004.
Setelah memberi pidato penting pada konvensi 2004 itu sebagai seorang kandidat dari Senat — pidatonya, “The Audacity of Hope”, langsung melejitkan nama Barack Obama beberapa tahun sebelum pencalonan presidennya — Obama menandatangani beberapa kontrak buku dengan Random House.
Itu merupakan jumlah uang yang besar.
Dia menandatangani kontrak untuk dua buku nonfiksi dan satu buku anak-anak. Buku nonfiksi pertama adalah “The Audacity of Hope” versi panjang pidatonya pada 2004. Sementara buku anak-anak berjudul “Of Thee I Sing”, hasil penjualannya disumbangkan.
Berikut adalah syarat dari kontrak buku tersebut yang membuat Obama sangat kaya.
Setelah Januari 2005, Obama akan menerima uang muka sebesar $ 1,9 juta (sekitar Rp 18,2 miliar) untuk “The Audacity of Hope”. Ia juga mendapatkan royalti dari penjualan buku itu. Dari buku audio, Obama mendapatkan 10 persen. Random House juga mencetak ulang bukunya pada 1995, “Dreams From My Father” yang terjual lebih banyak.
Pada 2005, dia juga mengalokasikan dana untuk beberapa aset — termasuk dengan musuh sekaligus teman politiknya, JP Morgan.
Begitu dia mendapatkan uang, dia tidak hanya menabungnya di bank. Dia berinvestasi.
Dia memiliki akun JP Morgan Chase Private Client Asset Management, yang bernilai setidaknya $ 100 ribu. Akunnya di Northern Trust bernilai antara $ 250-500 ribu (sekitar Rp 2,4-4,8 miliar), dan dia juga menabung di UBS.
Dia juga mendapatkan royalti $ 378.237 (Rp 3,6 miliar) dari Dystel & Goderich, agen bukunya untuk “Dreams From My Father” dan dari Random House sebesar $ 847.167.
Sampai rincian ini, dia memiliki sekitar $ 1,1-2,5 juta. Dia menggunakan royalti dari buku-bukunya untuk membeli banyak obligasi jangka pendek (Treasury Notes).
Pada 2006, dia mendapatkan $ 147.490 untuk “Dreams From My Father” dan $ 425 ribu dari Random House untuk “The Audacity of Hope”. Pada 2007, saat pencalonan dirinya menjadi presiden, penjualan buku meningkat tajam. Dia mendapatkan $ 815.971 untuk “Dreams” dan $ 3,28 juta untuk “Audacity”.
Dengan uang itu, dia membuat beberapa pilihan finansial penting. Dia membeli Treasury Notes AS senilai antara $ 500 ribu hingga $ 1 juta. Dia memindahkan uang dari Vanguard Wellington Mutual Funds ke Vanguard FTSE Social Index Fund, yang berinvestasi berdasarkan “kriteria sosial, hak asasi manusia, dan lingkungan.”
Pada 2007, dia juga melakukan salah satu investasi terbesarnya untuk masa depan Sasha dan Malia. Obama pada 2007 membeli dua Bright Directions Age-Based Growth Plans, satu untuk Sasha dan satunya untuk Malia.
Perencanaan dana tersebut akan membiayai pendidikan kuliah mereka. Masing-masing portofolio tersebut bernilai sekitar $ 50 ribu hingga $ 100 ribu. Pada 2010, portofolio tersebut masing-masing bernilai $ 100 ribu hingga $ 200 ribu.
Tahun ketika dia mencalonkan diri menjadi presiden, dia membeli Treasury Bills AS senilai jutaan dolar. Sedikit sibuk dengan pencalonannya, Obama tidak membuat perubahan besar apa pun kecuali lebih banyak berinvestasi dalam Treasury Bills AS.
Saat melakukan sumpah jabatan, Obama memiliki Treasury Bills AS bernilai sekitar $ 1,1 juta hingga $ 5,1 juta yang menyumbang sebagian besar kekayaan bersihnya. Aset lainnya bernilai sekitar $ 411 ribu hingga $ 915 ribu. Dia tidak mengumpulkan pemasukan dari buku-bukunya.
Ketika Obama menerima Hadiah Nobel Perdamaian sebesar $ 1,4 juta (Rp 13,41 miliar) pada 2009, dia menyuruh komisi penghargaan tersebut untuk mengirim langsung uang tersebut ke badan amal berikut:
• $ 250 ribu untuk Fisher House, yang memberi pemukiman gratis untuk keluarga veteran dan militer mendapatkan perawatan medis.
• $ 200 ribu ditambah sisa yang yang belum dialokasikan, untuk Clinton-Bush Haiti Fund dari Clinton Foundation, badan amal yang membantu pembangunan kembali Haiti setelah gempa mematikan.
• $ 125 ribu untuk American Indian College Fund, yang memberikan beasiswa untuk penduduk asli Amerika.
• $ 125 ribu untuk Appalachian Leadership and Education Foundation, yang memberi beasiswa untuk masyarakat berpendapatan rendah di wilayah Appalachia.
• $ 125 ribu untuk College Summit, sebuah organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah pendaftar universitas.
• $ 125 ribu untuk Posse Foundation, yang memberikan beasiswa penuh untuk pelajar sekolah luar biasa.
• $ 125 ribu untuk Hispanic Scholarship Fund, yang memberi beasiswa untuk pelajar Latin.
• $ 125 ribu untuk United Negro College Fund, yang memberi beasiswa untuk pelajar kulit hitam.
• $ 100 ribu untuk Africare, sebuah organisasi yang membangun sumber air dan menangani penyakit di Afrika.
• $ 100 ribu Central Asia Institute, yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan masyarakat, terutama untuk wanita di Asia Tengah.
Selain itu semua, Obama juga menerima gaji untuk pekerjaannya sehari-hari. Gaji presiden adalah $ 400 ribu (sekitar Rp 3,83 miliar) per tahun. Hingga saat ini, dia sudah menerima $ 1,6 juta untuk masa jabatan pertamanya.
Sebagai seorang Senator AS, Obama digaji $ 174 ribu (Rp 1,66 miliar) per tahun. Dan karena dia sudah empat tahun menjabat, dia mendapatkan $ 696 ribu (Rp 6,66 miliar) selama masa jabatannya tersebut.
Jika digabungkan, selama menjabat di pemerintahan federal, Obama memperoleh $ 1,1 juta (sekitar Rp 10,54 miliar) sebelum dipotong pajak.
Kekayaan bersihnya diperkirakan bernilai $ 2,8 juta dan $ 11,8 juta (Rp 26,83 miliar-Rp 113,07 miliar) pada 2010.
Jumat, 14 September 2012
Senin, 10 September 2012
Murid SD Sidikalang Torehkan Prestasi Tingkat Nasional
(Analisa/sarifuddin siregar). Yosua Saragih dan Sarah F Panggabean siswa SD Katolik St Josef Sidikalang Kabupaten Dairi berfoto sembari memegang simbol kemenangan dengan kepala sekolah Sr Henderika Gultom dan guru pembina Alex Daryono Pasaribu, Senin (10/9). Bersama Thalia Sebastian, pelajar SD Sutomo Medan -- delegasi Sumut tersebut berhasil menorehkan prestasi sebagai The Best Experiment pada OSN di Jakarta pekan kemarin.
|
Sidikalang, (Analisa). Dua siswa binaan SD Katolik St Josef Sidikalang berhasil menorehkan prestasi tingkat nasional di ajang OSN (Olimpiade Sains Nasional) di Jakarta, Minggu-Jumat (2-7/9).
Dalam kompetisi perorangan, Yosua Saragih mencatatkan diri sebagai penerima medali perak bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Selanjutnya, dalam kelompok regu mewakili Sumatera Utara, Yosua bersama teman sekolah Sarah F Panggabean dan Thalia Sebastian pelajar kelas VI SD Sutomo Medan menggondol prestasi The Best Experiment.
Ini sebuah catatan mengharukan buat masyarakat Kabupaten Dairi, ujar Kepala SD St Josef Sidikalang, Sr Hendrika Gultom kepada wartawan usai menyematkan tanda kehormatan dan apresiasi kepada murid terbaik tersebut. Ternyata, putra daerah ini mampu bersaing penuh percaya diri di level bergengsi. Delegasi menerima piagam dan dana pembinaan dari Dirjen Pendidikan Dasar, Prof Suyanto dan Dirjen Pembinaan Sekolah Dasar, Ibrahim Bafadul. Ditambahkan, keduanya telah mengikuti penempaan selama dua tahun di bawah bimbingan Alex Daryono Pasaribu. Gemilang terebut, ternyata telah direkam oleh sebuah lembaga populer hingga mereka ditawari beasiswa penuh selama 3 tahun oleh Sragen Bilingual Boarding School. Ia berharap, capaian itu menjadi motivasi bagi seluruh pelajar dan pendidik guna menyajikan nilai terbaik. Artinya, potensi brilian juga ada di desa. Walau ada tawaran scholarship, Yosua Saragih dan Sarah F Panggabean menetapkan pilihan meneruskan edukasi di SMP Katolik St Paulus Sidikalang.Yosua berobsesi menjadi seorang insiniur sipil dan Sarah ingin pada status wanita karir. I want to be a business woman. Mau jadi wanita karir, ujar dia. Seputar eksperimen, Yosua menjelaskan, tim melakukan pengukuran beberapa hal di antaranya berat jenis benda dan bobot sesuatu serta tinggi. Optimisme adalah sikap yang ia pegang menghadapi kompetitor kelas berat dari kota besar. (ssr)
Disalin dari Harian Analisa, edisi Selasa tgl 11/9/2012
www.analisadaily.com
|
Rabu, 22 Agustus 2012
67 Tahun Merah Putih
KIBARKAN
MERAH PUTIH: Bupati Kabupaten Dairi, KRA Johnny Sitohang Adinegoro menyerahkan
duplikat sang saka merah putih kepada anggota Paskibra untuk dikibarkan pada
puncak peringatan detik-detik proklamasi ke 67 di Stadion Sidikalang, Kamis
(17/8).
Detik Proklamasi Diawali Teguran
Keras PNS
Sidikalang,
(Analisa)
PNS mendapat teguran keras dari
Komandan Upacara, Kapten Parlon Tambunan menjelang puncak perayaan Peringatan Detik-Detik
proklamasi ke 67 di Stadion Utama Panji Sibura-bura Sidikalang Kabupaten Dairi,
Jumat (17/8). Pasalnya, Pasiter Kodim 0206/D ini melihat oknum PNS masih merokok di barisan. Hingga
lebih dua kali kalimat serupa dilontarkan, belum juga tertib. Himbauan pedas di
hadapan publik tersebut seakan kurang direspons.
“Kalau tidak mau upacara, silahkan
keluar. Ini bukan upacara biasa” ujar Tambunan. Beberapa detik kemudian, suasana berubah perlahan teratur. Sebelumnya, arahan senada disampaikan Drs
Bonar Butar-Butar Kepala Dinas Kebudayaan Parawisata Pemuda dan Olah Raga. Dia meminta, masing-masing barisan mengatur
jarak disertai perapian. Namun,
instruksinya kurang didengar hingga
pengeras suara dan perintah diambil alih tentara.
Penghormatan bendera dipimpin
Bupati, KRA Johnny Sitohang Adinegoro. Ketua Legiun Veteran, Abdul Rahman Lubis
dan warga turut melakukan gerak serupa memandang ke kibaran merah putih.
Sementara teks proklamasi diamanahkan kepada Delphi Masdiana Ujung Ketua DPRD.
Beberapa acara disajikan menghibur hadirin. Diantaranya tampilan TK St Maria
melalui barisan drum band dan tarian.
Pertunjukkan serupa juga diadakan di lokasi lain.
Di Panji Bako Desa Sitinjo II Kecamatan Sitinjo—kaum ibu ambil peran dalam
lomba panjat pinang Atraksi mengundang gelak tawa seiring gumulan oli ke organ tubuh. Di sela berbagai
kegiatan, mobil pemerintah plat merah melintas tanpa bendera. Diantaranya BB
259 Y yang sehari-hari dioperasikan Direktur rumah sakit.
PAKPAK BHARAT
Kabag Humasy Pemkab Pakpak Bharat,
Kastro Manik melalui hubungan telepon menerangkan, perayaan detik-detik
proklamasi dipusatkan di lapangan Napasengkut, Salak. AKP Tomy dari Polres Pakpak Bharat didaulat sebagai komandan
upacara. Penghormatan bendera merah putih oleh Bupati Remigo Yolando Berutu MBA
berlangsung hening dan hikmat. (ssr)
Disalin dari Harian Analisa Edisi Rabu (22/8/2012)- www.analisadaily.com
foto: dokumen pribadi
DPRD Dairi Masih Gunakan TV, Pakpak Bharat Mainkan Infocus
MASIH
PAKAI TV: Bupati Kabupaten Dairi KRA
Johnny Sitohang Adinegoro dan pimpinan daerah bersama anggota dewan mengikuti
Pidato Kenegaraan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam rangka Dirgahayu
Kemerdekaan RI ke 67 melalui layar televisi di gedung DPRD di Sidikalang, Kamis
(16/8). Pengelola lembaga tersebut
sepertinya masih gagap teknologi.
Sidikalang,
(Analisa)
Sekretariat DPRD Kabupaten Dairi
masih menerapkan pola lama dalam agenda
mendengar Pidato Kenegaraan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam rangka
Dirgahayu kemerdekaan RI ke 67. Dua
televisi dipajang di meja pimpinan sidang. Di sana duduk Ketua DPRD Delphi
Masdiana Ujung, Wakil Ketua Suparto Gultom dan Benpa Hisar Nababan, Bupati KRA
Johnny Sitohang Adinegoro dan Sekretaris Daerah Julius Gurning.
Otomatis, Bupati dan pimpinan dewan
tidak dapat menyaksikan tampilan layar secara utuh.
Delphi pun meminta Sekretaris Dewan, memfasilitasi penataan tempat
duduk. Namun demikian, pengaturan justru diambil alih Johnny. Kepala daerah ini mengarahkan posisi duduk
hingga para pimpinan daerah dan anggota legislatif dapat memandang ke televisi.
Mereka mengambil posisi di barisan terdepan. Volume pun dinaikkan agar para
pimpinan instansi berjarak sekitar 12 meter dapat mendengar suara. Begitupun,
beberapa anggota dewan justru absen di hari penting dimaksud. Kursi
kehormatan terlihat kosong.
“Ini nampaknya kurang persiapan.
Begitu banyak in focus sekarang. Di Pemkab juga ada. Masya masih pakai tivi”
ujar Pasder Berutu MSi Kepala Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa
kepada wartawan di Sidikalang, Kamis (16/8). Pejabat eselon II lainnya juga
mengaku kurang puas melihat sekretariat sepertinya masih gagap teknologi. Nonton bareng aja di warung kopi sudah pakai layar
lebar. Lagian, bukan barang mahal, kata
PNS.
Terpisah, Ir Benpa Hisar Nababan
menyebut, kursi untuk pejabat teras itu kurang layak. Ada yang hampir ambruk. Ketika
diminta respons, Bupati membenarkan kelemahan itu. Mudah-mudahan
dapat segera disempurnakan termasuk penyediaan peralatan.
LAYAR LEBAR
Kepala Bagian Hubungan
Kemasyarakatan Pemkab Pakpak Bharat, Kastro Manik melalui hubungan telepon
menjelaskan, eksekutif berupaya menyajikan layanan terbaik dalam setiap acara
baik kepada tamu maupun warga. Khusus pada pidato kenegaraan, disiapkan dua
layang lebar sehingga gambar dan nada penuh kualitas.
Sidang paripurna isimewa dibuka
Ketua DPRD Agustinus Manik. Bupati, Remigo Yolando Berutu MBA dan pejabat
lainnya termasuk tim eksekutif hadir di sana.
“Kami memang tinggal di kampung,
tapi tidak kampungan. Anda bisa tengok interior dan lighting. Tak kalah
dibanding gaya metro. Tamu pasti terpesona” ujar Kastro. Acara diselingi
lantunan tembang perjuangan oleh koor
PNS. Selanjutnya, dilaksanakan ramah tamah. (ssr)
Berita dikutip dari Harian Analisa edisi Rabu (22/8/2012) www.analisadaily.com
Foto: dokumen
Langganan:
Postingan (Atom)